Kamis, 04 April 2013

Reaksi Islam Terhadap Orientalisme




Banyak orang Islam yang dipengaruhi oleh ide bahwa orang-orang "Orientalis" bersangkut paut dengan para penjajah yang memusuhi Islam. Kaum orientalis terpelajar sungguh telah berikhtiar untuk memperlihatkan banyak masalah pokok kepercayaan orang Islam adalah salah, terutama yang sekunder, kecuali barangkali tidak banyak orang Islam yang sadar akan rincian-rinciannya. Yang lebih serius adalah sikap umum kaum orientalis dan bangsa Eropa pada umumnya dalam memandang Islam sebagai agama yang rendah dengan berhagai kelemahan, begitu pula dalam beberapa kasus yang terdapat pada asumsi superioritas pribadi penjajah itu. Memang benar, ada pula kesadaran di tengah kaum muslimin akan keterbelakangan negeri-negeri Islam dibandingkan dengan barat. Dalam bukunya The Spirit of Islam Ameer Ali berikhtiar menentang anggapan yang merendahkan Islam. Dalam nada yang sama seorang Mesir, Muhammad Rashid Rida, yang menerbitkan jurnal bulanan Al-Manar tahun 1898-1935, hendak menekankan fakta bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat Eropa yang telah terjadi itu secara luas melampaui apa yang telah dipelajari dari kaum muslimin di Spanyol dan dari peradaban Islam secara umum. Menurutnya, hal ini memperlihatkan bahwa kondisi keterbelakangan kaum muslimin sekarang ini bersifat temporer dan tidak perlu dirasakan inferioritas yang inheren. Argumen ini juga pada gilirannya ditunjukkan sebagai justifikasi bagi diterimanya pendidikan Eropa oleh kaum muslimin, karena dalam pengertian ini asal-usulnya berasal dari Islam. [30]
Sangat sedikit orang Islam yang mempunyai apresiasi mendalam terhadap pandangan intelektual barat dalam hal sejarah, ilmu pengetalluan dan filsafat. Orang-orang yang demikian itu cenderung kurang perhatian untuk menentang kaum orientalis ketimbang untuk memperlihatkan para penganut agama Islam bagaimana mereka dapat menerima tingkat westernisasi dan malah masih mempertahankan identitasnya yang berbeda. Akibatnya, sekalipun ada berbagai ikhtiar untuk menolak apa saja yang dilihat sebagai serangan terhadap Islam, mereka tidak akan pernah terpengaruh dengan orang- orang barat yang terdidik, dibandingkan dengan pengaruh para ilmuwan barat. Satu garis berfikir untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an yang mengantisipasi berbagai ragam penemuan-penemuan ilmiah itu belum terjadi sampai abad-abad belakangan ini, misalnya: rotasi dan revolusi bumi (39: 5); pembuahan tumbuh tumbuhan lewat angin (15: 22); revolusi matahari, rembulan dan planet-planet pada orbit-orbit yang telah ditentukan (36: 38 dan seterusnya); air sebagai asal-usul bagi semua makhluk hidup (21: 30); model kehidupan lebah (16: 69); persilangan seks pada tumbuh tumbuhan dan makhluk-makhluk yang lain (36: 35). Diperbincangkan bahwa semenjak hal-hal pokok itu tidak mengetahui makhluk yang bernama manusia pada masa hayat Muhammad SAW, mereka membuktikan bahwa Al-Qur'an itu betul-betul mempunyai asal-usul samawi dari Tuhan. [31] Garis pemikiran inilah yang dibicarakan oleh seorang ahli kedokteran Perancis, Maurice Bucaille, yang menghasilkan buah penanya yang mempunyai pokok isi masalah yang diperlihatkan tersebut, sungguhppun terdapat banyak kesalahan ilmiah dalam kitab Bibel. Al-Qur'an, dengan demikian, mendahului ilmu pengetahuan yang ada pada zamannya dan mengantisipasi penemuan-penemuan terkemudian.
Di antara orang-orang Islam yang dinyatakan menyerang Islam tidak ada usaha mendapatkan pemahaman yang senyatanya tentang pandangan intelektual barat dan menciptakan "oksidentalisme" Islam sebagai serangan balasan terhadap orientalisme. Malahan mereka dipenuhi dengan argumen-argumen superfisial menentang Kristen dan pandangan-pandangan barat. Jadi komunitas Ahmadiyah yang heretik (bid'ah) itu menyatakan dirinya telah mendapatkan kuburan Yesus di Srinagar, Kashmir dan mengadopsi pandangan bahwa Yesus hanya jatuh pingsan di tiang kayu salib, lalu pulih lagi dan pergi ke timur untuk menyebarkan ajarannya. Bukti bagi pengidentifikasian kuburan yang khusus sebagai kuburan Yesus itu adalah tidak ada gunanya sama sekali.
Sebagian orang Islam mendapatkan senjata lain untuk menyerang Kristen dalam kitabnya yang disebut Injil Barnabas. Manuskrip asli tentang kitab yang disebut Injil Barnabas ini hanya ada di (dalam bahasa) Italia dan pertama kali didengar di Amsterdam pada tahun 1709, lalu kemudian diperoleh jalannya ke perpustakaan Imperial di Vienna. Disebutkan ada yang telah menjadi versi terbitan bahasa Arab awal, namun tidak ada salinannya yang muncul. Teks Injil Barnabas ini diterbitkan oleh dua orang ilmuwan Kristen pada tahun 1907 dengan terjemahan bahasa Inggris. [32] Kitab ini besar -- tebalnya lebih dari dua ratus bab dan terdiri dari empat ratus halaman. Kitab ini sebagian terbesar berisi bahan pada ajaran-ajaran yang aktual, namun juga terdapat beberapa tambahan yang disusun untuk mendukung Islam dengan mengorbankan Kristen. Hal itu dilakukan sepanjang untuk membuat Yesus menyatakan Muhammad sebagai Messiah. Ilmuwan-ilmuwan Kristen telah sepakat bahwa kitab itu ditulis kemungkinan sekali pada akhir abad enam belas, atau kemungkinan juga pada abad ke empat belas -- oleh seorang Kristen yang pindah agama ke Islam. Pengetahuannya tentang Islam belum sempurna, karena orang ini masih banyak melakukan kesalahan tentang Islam, demikian pula semua bentuk kesalahan yang lain, seperti menempatkan Nazareth di Laut Galile. Jadi nilai historis kitab Injil Barnabas ini sama sekali nihil atau nol, yang secara meyakinkan diperlihatkan pada pendahuluan buku itu. Yang amat meyakinkan adalah bahwa para ilmuwan Kristen telah menerbitkan kitab ini untuk menunjukkan bahwa para ilmuwan Kristen itu tidak berfikir tentang kitab ini yang dapat merugikan kepercayaan Kristen dalam beberapa cara. Mereka agaknya dimotivasi oleh semacam bentuk rasa ingin tahu historis, karena, ketika kitab itu diketemukan di awal abad delapan belas, banyak orang yang menggunakan kitab ini dipakai oleh Deist Inggris untuk menyerang ortodoksi Kristen.
Setelah terbitan teks dalam bahasa Italia dan terjemahan bahasa Inggrisnya, sebagian orang Islam menjadi tertarik kepada kitab itu dan pada tahun 1908 terjemahan bahasa Arab terdapat di Kairo. Terjemahan Arab ini diikuti oleh terjemahan ke dalam bahasa-bahasa Islam yang lain, bahasa Urdu, bahasa Persia dan bahasa Indonesia. Kebanyakan orang muslim diyakinkan bahwa kitab ini dengan jelas menunjukkan ketidaksahihan dan kesalahan ajaran Kristen, dan berdasarkan alasan ini terjemahan-terjemahan sudah acapkali diangkat kembali ke permukaan. Jadi kitab Injil Barnabas ini mempunyai pengaruh tidak menguntungkan untuk mempertegas orang muslim dalam pengakuannya terhadap persepsi Kristen yang tidak sahih, kemudian akan membutakan mereka akan adanya keperluan untuk mencapai persepsi yang lebih akurat dalam keimanan dan amaliah berjuta-juta umat Kristen secara aktual. Terjemahan bahasa Perancis muncul pada tahun 1977 dengan pengantar dua orang ilmuwan dari barat, berspekulasi pada kemungkinan penulis asli yang telah memasukkan bahan dari sumber Yahudi Kristen yang tidak diketahui. [33] Namun ilmuwan yang lain, Jan Slomp, telah menunjukkan bahwa tidak ada dasar-dasar yang solid bagi spekulasi tersebut. [34] Apa yang sesungguhnya direalisasikan oleh kaum muslimin adalah kematangan pandangan orang Kristen, didukung oleh bobot keilmuwan yang meliputi segala, yang secara absolut diyakini bahwa kitab itu adalah palsu dan bahwa kitab itu tidak ada yang bertentangan dengan pokok kepercayaan Kristen, bahkan dalam bahan-bahan sekunder sekalipun.
Pada tahun 1977, terbit sebuah buku yang berjudul The Myth of God Incarnate [35] dianggap oleh sebagian orang muslim sebagai bukti bahwa umat Kristiani meninggalkan kepercayaannya kepada sifat ketuhanan Yesus. Universitas Raja Abdul-Aziz di Jedah mensponsori sebuah buku setebal empat puluh halaman dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan judul About The Myth of God Incarnate: An Impartial Survey of its Main Topics dan ditulis oleh Abdus Samad Sharafuddin. [36] Setelah pembahasan terinci dua makalah oleh Maurice Wiles, sang penulis menyimpulkan: "Fakta yang sedemikian jauh dinyatakan agar berarti bahwa inkarnasi Tuhan dalam diri Kristus itu tidak didukung oleh kitab-kitab suci yang jelas. Berdasarkan alasan ini maka persoalan inkarnasi Tuhan di dalam diri Kristus ini masih menjadi dunia yang chaos yang disebut "myth" (mitos). Orang ini cenderung mengambil kata "myth" dalam arti negatifnya sebagai yang hampir equivalen dengan kesalahan (halaman 10), dan pernyataan ajaran tersebut sebagai "kesalahan besar yang telah berlangsung lama dalam pemikiran Kristen" (halaman 1). Sekalipun sikap umum penulis ini adalah eirenic, penulis ini tidak menyimpang dari kepercayaan bahwa semua kebenaran itu didapatkan pada sumber Al-Qur'an dan sumber-sumber lain dimanapun adannya. Dalam kesimpulan Abdus Samad Sharafuddin mengutip Al-Qur'an dalam 3: 199, yang dengan baik menjelaskan Ahli Kitab dan meneruskan pernyataannya:
Ayat di atas membawa pesan kehendak yang baik dan harapan universal terhadap seluruh saudara-saudara, baik laki-laki maupun perempuan, yang beriman kepada Kitab-Kitab kebenaran yang diimani dan terlepas dari labelnya -- Kristen, Yahudi, atau Muslim. Kemungkinan tingkatan orang-orang yang beriman benar itu dekat dan boleh jadi mereka mengikuti jalan persahabatan, persaudaraan dan saling memahami, yang disinari oleh Deklarasi Konsili Vatican Kedua dalam isunya yang di angkat pada tahun 1965 tentang "Religious Freedom" -- Kebebasan Beragama. [37]
Kemudian dia mengutip dua kalimat pembukaan tentang Islam pada Deklarasi Vatican Kedua tersebut - dengan menarik perhatian mengambilnya dari pendahuluan The Gospel of Barnabas terbitan Karachi tahun 1973. Umat Kristen seharusnya mengapresiasi keterbukaan Abdus-Samad Sharafuddin terhadap kebenaran Kristen dalam Perjanjian Baru dan dokumen-dokumen yang lain, namun juga mesti dibuat sedih untuk melihat bahwa orang ini hanya mendapatkan pendapat-pendapatnya yang sebelumnya tentang Kristianitas yang dibayangkannya.
Orang Kristen yang merefleksikan pada kritik The Myth of God Incarnate ini seharusnya menyatakan betapa sulitnya seorang muslim untuk sadar akan betapa luasnya pemikiran dan tulisan yang merupakan proses kehidupan teologi Kristen, karya tunggal itu tinggi nilainya namun tidak lebih banyak ketimbang yang jatuh kepada kematian. Buku khusus ini menjelaskan fakta yang memprovokasikan perdebatan, sebagai yang diharapkan oleh para penulis, namun kini pernyataan itu menempatkan orang yang terpesona terhadap apa yang benar-benar berubah pada landasan sikap para ahli teologi Kristen. Buku itu sendiri, di samping judulnya menggunakan istilah "mitos", bukan mendiskusikan konsep secara keseluruhan, dan bahkan perhatian kepada "mitos" pada perdebatan lebih lanjut yang tidak menggunakan topik tersebut. Sedang hal itu akan timbul karena topik ini merupakan satu hal yang seyogyanya ditingkatkan pada dialog antar umat beragama umat Islam, umat Kristen, dan umat pengikut agama lainnya.
Argumen-argumen sederhana yang menentang para orientalis dan umat Kristen yang kemungkinan diseimbangkan oleh catatan kritik yang menjadikan para orientalis meneliti "pengaruh" yang oleh seorang muslim ditunjukkan pada pandangan intelektual barat, Mohammed Arkoun:
L'utilisation par le Coran d'elements de notions, de rites, de croyances, de recits deja connus dans les culture anterieures, l'autorise pas la recherche des "influences" ala maniere des philosophigues- historicistes. Ceux-ci ont une theorie de l'orginali de l'orginalite litteraire ou doctrinale qui interdit pratiquement le travail de recreation a l'aide de materiaux epars puises dans le traditions aciennes. La inguistique moderne et la semiotique permettent de retrouver la dynamique proper a chaque texte qui recombine et reinvestit, dans ces perspectives neuves, des emprunts decontextualises. On peut montrer, pour chaque recit, dans le Coran, comment le discours narratif initie a une nouvelle experience du divin, tout en utulisant des noms, des theme, des episodes, voire des termes provenant de textes antiriurs. [28]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar