Minggu, 07 April 2013

AJARAN AGAMA YAHUDI



A.    Pokok-Pokok Ajaran Agama Yahudi
Inti ajaran agama Yahudi terkenal dengan “sepuluh Firman Tuhan” atau Ten Commandments atau Decalogue,(Grik, deca=10, logue=risalah). Kesepuluh perintah Tuhan tersebut diterima oleh Nabi Musa di bukit Sinai (Tur Sina), ketika terjadi dialog langsung antaraa Musa dan Tuhan. Firman Tuhan tersebut oleh Musa langsung ditulis di atas sobekan kulit-kulit binatang atau di batu. Demikianlah menurut Louis Finkestein, editor buku The Jews, Treir Relligion and Cullture[1].
Sepuluh  firman Tuhan atau wasiat sepuluh terssebut adalah:
1.      Saya adalah Tuhanmua yang kamu sembah, yang telah membawa kamu ke luar dari tanah Mesir, keluar dari rumah belenggu, kau tidak mempunyai Tuhan lain kecuali Aku.
2.      Kamu tidak boleh membuat persamaan atau menyatakan segala sesuatu yang ada di langit sebelah atas, atau di atas bumi, atau apa-apa yang ada di dalam air, di bawah bumi, dengan Tuhanmu
3.      Kamu tidak boleh menyia-nyiakan nama Tuhanmu (menyebut Tuhanmu dengan sia-sia).
4.      Ingatlah hari Sabbath, untuk disucikannya.
5.      Hormatilah ayah dan ibumu.
6.      Kamu dilarang membunuh.
7.      Kamu dilarang  mencuri.
8.      Kamu dilarang bersaksi palsu.
9.      Kamu dilarang berbuat zina
10.  Kamu dilarang bernafsu loba-tamak terhadap milik orang lain.
Sepuluh  firman tersebut ternyata mengandung aspek-aspek aqidah, ibadah, syariah, hukum dan etika.
a.      Ajaran tentang Tuhan
Agama Yahudi percaya kepada Tuhan Yang Esa, tetapi Tuhan yang hanya khusus untuk Bani Isra’il, bukan Tuhan untuk bangsa lain. Mereka tidak pernah menyebut nama Tuhannya dengan langsung karena mungkin akan mengurangi kesucian-Nya. Olrh sebab itu oarng Israel melambangkan-Nya dengan huruf mati YHWH, tanpa bunyi. Lambang ini bisa dibaca YaHWeh atau Ye-Ho-We atau YeHoVah.
Menurut Harun Nasution, dalam bukunya Filsafat Agama, menyatakan bahwa ajaran keesaan Tuhan menurut Yahudi adalah hasil perkembangan dari kepercayaan yang henoteis menuju kepercayaan yang mengakui keesaan Tuhan[2].
Sewaktu masyarakat Yahudi masih dalam tingkatan animisme,roh-roh nenek moyang mereka disembah yang kemudian dalam tingkatan politeisme menjadi dewa. Kata hebrew yang dipakai untuk Tuhan pada mulanya ialah jamak daripada kata eloh atau elohim. Tiap kabilah mereka mempunyai eloh sendiri. Kemudian tiba suatu masa ketika salah satu elohim ini, yaitu Yehovah, yang kemudian menjadi eloh dari bukit Sinai, menjadi eloh yang tunggal bagi masyarakat Yahudi. Eloh-eloh lain tidak diakui lagi. Yehovah kemudian menjadi Tuhan nasional Yahudi, tetapi belum menjadi Tuhan seluruh alam.
Walaupun firman kedua dari sepuluh Firman Tuhan, mengandung pengertian bahwa Tuhan bangsa Yahudi itu tidak dibatasi atau dikurangi, atau disifati, tetapi kitab-kitab Taurat tetap mensifati Tuhan dalam satu gambaran yang betul-betul menyerupai sifat-sifat manusia, atau antropomorfisme, seperti Tuhan mempunyai bibir, mempunyai lidah, berkata-kata, mempunyai tangan dan sebagainya. Atau sering juga Tuhan disifati dengan penafsiran “antropopatisme”, yaitu menyamakan perasaan Tuhan dengan berbagai perasaan manusia, seperti Tuhan membenci, menertawakan kesibukan manusia, berdiam diri, ,erintih, marah, mengasihi, menyesal,dan sebagainya.

Fase-fase Kepercayaan Bani Isra’il Terhadap Yehovah
 Kepercayaan Bani Isra’il kepada Yehovah dapat dikategorisasikan dalam tiga fase, yaitu:
1.      Fase Yehovah sebelum Haikal Sulaiman
Pada fase ini Bani Isra’il sering menukar kepercayaan mereka dengan anak lembu dan juga ular yang mereka anggap suci.
2.      Yehovah pada waktu Haikal
Sewaktu Sulaiman membangun Haikal sebagai tempat beribadah Bani Isra’il dan pusat penyembahan terhadap Tuhan mereka,bangsa Israel malah menganggap Yehovah tidak banyak bedanya dengan batu-batu berhala atau patung-patung. Tetapi setelah itu bersamaan dengan usaha mereka untuk menyatukan pemikiran Yahudi agar kerajaan mereka tetap berdiri dan terpelihara dengan sebaik-baiknya, maka mereka merasa perlu untuk menjallin hubungan kembali dengan Yehovah. Dan Yehovah merupakan Tuhan yang Tunggal tetapi hanya untukk Bani Isra’il saja. Tuhan yang mengatasi   semua Tuhan bangsa lain.
3.      Yehovah sesudah Haikal
Sewaktu Haikal yang dibangun Sulaiman dihancurkan oleh raja Babilonia, Nebuchadnezar (586 SM) dan membuang orang Yahudi ke Babilonia, mereka berpikir adakah Yehovah bersama meka ke Babil atau bersama kelompok Israel yang masih tetap  tinggal di Palestina? Jawabannya: Yehovah selalu bersama setiap orang di antara mereka, di mana pun ia berada. Dengan ini mereka tidak lagi merelakan Tuhan dalam arti yang sangat terbatas[3].
Yang menjadi titik sentarl kepercayaan mereka terhadap Tuhan yang lain adalah “keyakinan mereka terhadap perjanjian Tuhan”. Perjanjian Yehovah dengan Israel bersifat sangat eklusif, artinya orang Israel tidak boleh menyembah ilah yang lain di samping Yehovah dan sebaliknya Israel oleh Tuhan akan dijadikan bangsa pilihanya. Berdasarkan Taurat, orang Israel telah memateri janji yang sangat penting, sehingga dapat dianggap sebagai sumber dari segala sejarah dan kepercayaan Israel di masa-masa selanjutnya[4].  
Kandungan dan materi perjanjian iitu seluruhnya sudah di berikan kepada bangsa Israel oleh Musa dalam bentuk Taurat, hukum tertulis. Sehingga Taurat yang sekarang ini dikukuhkan dengan nama “Perjanjian Lama” karena juga dimuliakan tidak saja oleh bangsa Yahudi tetapi juga oleh kaum Gerejanii (Nasrani) yang karena terpengaruh besar oleh makna ‘perjanjian’ juga menamakan Injil mereka dengan “Perjanjian Baru”.
b.  Makna Penciptaan
dalam bab pertama kitab Kejadian (Genesis) dinyatakan sebagai berikut: “ Pada permulaannya Tuhan menciptakan langit dan bumi dan “.... Tuhan memperhatikan segala sesuatu yang telah ia jadikan serta menjaganya sebaik-baiknya.
Jadi dengan berlandaskan kitab suci tersebut maka jelaslah bahwa umat Yahudi memandang bahwa semua yang ada ini adalah ciptaan Tuhan tersebut mengandung arti dan manfaat yang besar bagi hidup di dunia.
Dengan demikian maka orang Yahudi menolak pandangan tentang keharusan manusia mengesampingkan aspek-aspek kehidupan jasmaniyah atau duniawiyah sebagai yang berlaku dalam agama Hindu dan Budha. Hidup duniawi bukan suatu penjara bagi nyawa atau ruh seseorang yang harus segera diakhiri dengan kematian. Materi bukanlah maya karena menjadi unsur kehidupan yang sangat penting bagi manusia.
c. Makna Manusia
Menurut agama Yahudi, manusia dipandang sebagai suatu makhluk terbatas dalam segala hal. Apalagi bilamana manusia itu dibandingkan dengan kecermelangan sorga, maka manusi hanyalah bagaikan debu belaka (menurut Psalm 103-140. Tetapi  bila dibandingkan dengan kekuatan alam yang ada disekitarnya, maka ia sebagai suatu yang mudah rusak dan lemah (Job.4:19).
Kesempatan hidup dunia lekas habis, bagaikan rumput-rumputan yang tumbuh di waktu pagi, di waktu sore di potong habis dan lenyap tak berbekas (Psalm 90:80). Akan tetapi meskipun manusia lemah, dalam satu segi dia dapat memiliki  derajat yang lebiih tinggi hampir sama dengan malaikat, bilamana dia benar-benar mentaati petunjuk-petunjuk Tuhan. Sabbda dalam kitab Psalm 8:5 antara lain sebagai bberikut:.......karena Kau  telah membuatnya sedikit lebih rendah dari malaikat”. Dan Aku telah menaruh di mukamu hidup dan mati, maka pilihlah hidup”. (Ulangan 30;19)[5].

B.     Kitab Suci Agama Yahudi
Orang-orang Yahudi menamakan Kitab Suci mereka TeNaKh dan terdiri dari tiga bagian, yaitu Hukum atau Taurat, Nabi-Nabi atau Nevi’im, dan Sastra atau Ketuvim[6].
a.      Taurat
Taurat artinya “hukum” atau “pengajaran” dan menunjuk pada keseluruhan apa yang diketahui tentang Allah dan hubunganNya dengan dunia ciptaanNya. Dalam pengertian yang lebih sempit, Taurat menunjuk pada lima kitab Musa : Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan ulangan, yang terletak di permulaan kitab suci.  Bersamaan dengan hari Sabat, Taurat dirayakan sebagai pemberian Tuhan terbesar kepada orang-orang Yahudi.
Bagian penting ibadat umat Yahudi adalah pembacaan dengan suara keras sejumlah ayat dari Taurat. Di sinagoga, bacaan dari gulungan Kitab Taurat, atau Sefer Torah, dibacakan pada hari Sabat pagi dan sore, perayaan keagamaan pagi, dan pada pagi hari Senin dan Selasa pagi. Sebagai penghormatan besar, kitab Taurat hanya boleh dibuka oleh laki-laki, demikian dalam tradisi ortodoks, dan untuk dibacakan di depan umat. Orang yang dipilih untuk membaca Kitab Suci dalam bahasa Ibrani harus menggunakan yud-alat petunjuk yang dipegang.
b. Para Nabi
Dalam tradisi Yahudi ada delapan kitab yang diberi nama menurut nama para nabi. Empat kitab yang pertama, Yoshua, Hakim-Hakim, Samuel I dan II, serta Raja-raja I dan II,  biasanya mengacu pada para Nabi Terdahulu dan kitab-kitab sejarah.  Keempat Kitab yang lain mengacu pada para Nabi-Nabi Terakhir: Yesaya, Yeremia, Yahezkiel dan 12 Nabi-Nabi kecil  yang dianggap satu kitab. Sebagian besar isi dari kitab dari Nabi-Nabi Terahkir merupakan kumpulan khotbah yang disampaikan oleh para Nab, yang nama-namanya menjadi nama kitab-kitab itu, yang semuanya dikumpulkan oleh para murid mereka. Bacaan terpilih dari kitab para nabi dibacakaan di sinagoga pada hari-hari Sabat, perayaaan-perayaan keagamaan, dan hari-hari puasa.
b.      Sastra
Sastra, bagian ketiga TeNaKh, diangggap kurang bernillai daripada dua jenis kitab yang lain, walaupun kitab itu memang berisi Mazmur, yang secara teratur digunakan   dalam ibadat di sinagoga. Bacaan dari Sastra ini sering diberikan di sinagoga pada hari-hari perayaan.    

C.    Peribatan dalam Agama Yahudi 
a.      Sembahyang yahudi
Umat yahudi melakukan sembahyang 3 jam sehari, yaitu jam 9,11,dan jam 3. Dalam kitab tarmut mengatur masalah sembahyang yang 3 kali sehari itu dengan lebih terperinci. Ditetapkan agar orang yahudi melaksanakan sembahyang 3 kali sehari semalam, yaitu sembahyang pagi, sembahyang siang dan semmbahyang malam. Sembahyang pagi dilaksanakan mulai terbit fajar sampai sepertiga panjang siang hari, kira-kira jam 10. Sembahyang siang dimulai sesaat setelah matahri condong kebarat sampai matahari terbenam, dan sembahyang malam mulai malam tiba sampai terbit fajar[7].
Yang terpenting dalam setiap sembahyang ialah apa yang disebut dengan tefillah, atau menurut Talmud, anidah yaitu tegak berdiri mengawali sembahyang dengan mengucapkan salawat sebanyak 19 kali, 3 kali pertama memuji kekuasaan tuhan, kemahaperkasaannya dan kesuciannya; 3 kali yang terakhir sebagai ucapan terima kasih ats rahmatnya yang tidak putus-putus, doa penutup untuk keselamatan dan kedamaian;sedang 13 lainnya ditengah-tengah dan merupakan permohonan untuk segala keperluan.
b.      Puasa Yahudi
Umat yahudi melakukan puasa biasanya pada waktu mereka berkabung atau duka cita dan kemalangan.
Tujuan puasa bagi mereka adalah untuk menghapus dosa dan mensucikan diri, disamping untuk menyatakan rasa keprihatinan atau duka cita. Ada 4 hari penting yang diperingati dengan berpuasa oleh umat yahudi, yaitu hari permulaan kota yerusalem dikepung, hari kota yerusalem jatuh ketanah Nebukadnezar, hari kanishah dihancurkan dan hari Gedaliah dibunuh orang.
Puasa orang yahudi berlangsung sejak waktu fajar menyingsing hingga kelihatan 3 buah bintang yang pertama terbit pada senja hari yang bersangkutan.
c.       Korban dalam Agama Yahudi
Korban yang ditradisikan oleh umat yahudi itu dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu: korban perdamaian, korban pemujaan dan lain-lain.Korban perdamain adalah korban yang dilaksanakan untuk memohon perdamaian dengan tuhan bagi dosa-dosa yang diperbuat tanpa sengaja. Korban terdiri dari korban penghapusan dosa dan korban penebusan dosa. Korban pemujaaan terdiri dari korban bakar, korban keselamatan dan korban sesaji. Korban lain-lain terdiri dari korban perjanjian, korban pelantikan umum, korban cemburuan dan korban pembunuhan[8].
d.      Khitan
Dilakukan pada hari kedelapan dari lahirnya seorang bayi dan sekaligus diberi nama.

D.    Nabi-Nabi Orang Yahudi
Nabi-nabi Yahudi antara lain isayah atau Yesay, Yeremia, Ezekil dan Daniel, Amos, Obaya, Yunus, Mikha, Nahum,  Hababuk, Zefanya dan Maleakhi, Hagai, Zakaria, Elia, Natan dan Debora.

E.     Hari-Hari Suci Yahudi
1.      Hari Paaskah, yaitu hari raya yang dipestakan untuk merayakan pembebasan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir.
2.      Hari Pantekosta, yaitu hari kelimapuluh. Hari iini merupakan hari pesta yang penting yaitu pesta pascca panen.
3.      Hari Perdamaian Besar, yaitu hari kelimapuluh bulan ketujuh, menurut penanggalan Yahudi. Hari ini disebut juga sebagai hari penghentian penuh. Pada harii ini semua oarng harus berpuasa, dan berkorban harus dilakukan untuk menghapus dosa.
4.      Hari Raya Pondok Daun atau hari raya pengumpulan hasil, yang dirayakan pada tanggal 15-22 bulan ketujuh kalender Yahudi. Selam apekan perayaan ini, setiap hari  dilakukan korban-korban khusus. Waktu itu panen sudah selesai. Orang-orang Yahudi diam di pondok-pondok yang terbuat dari daun dan dahan tumbuh-tumbuhan. Di sanalah mereka makan minum.
5.      Hari Penebusan Dosa. Hari ini bernilai rohaniah bagi umat Yahudi, sehingga dianggap sebagai hari yang sangat penting dan paling mereka keramatkan. Hari ini jatuh pada sekitar akhir bulan keenam dan awal bulan ketujuh kalender mereka.
6.      Hari bulan Baru. Orang yahudi selalu merayakan dan mensucikan hari ppertama tiap-tiap bulan baru, yag dirayakan dengan korban dan perjamuan makan bersama.
7.      Tahun Sabbath. Menurut kepercayaan umat Yahudi, selama Tahun yang ketujuh, tanah tidak boleh dikerjakan atau ditanami. Semua orang harus beristirahat.


[1]  Mudjahid Abdul Manaf, 1994, Sejarah Agama-Agama, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.Hlm.56.

[2] Mudjahid Abdul Manaf, 1994, Sejarah Agama-Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,hlm.57.
[3] Mudjahid Abdul Manaf, 1994, Sejarah Agama-Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,hlm. 58-59.
[4] Mudjahid Abdul Manaf, 1994, Sejarah Agama-Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,hlm
[5] H.M. Arifin, 1997,  Menguak Misteri Ajran Agama-Agama Besar, Jakarta: PT Golden Teravon Press,hlm. 126.

[6] Michael Keene.,2006, Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: Kanisius.hlm. 44
[7] Romdhon dan A. Singgih Basuki dkk, 1988, Agama-Agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga,hlm. 322.
[8] Romdhon dan A. Singgih Basuki dkk, 1988, Agama-Agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga,hlm. 324.

1 komentar:

  1. makasih banyak buat artikelnya, tapi kok banak yang salah ketik he,he

    BalasHapus